Mempopulerkan Blackberry Enterprise System (BES) untuk UKM :
Hybridisasi Strategi Komunikasi Hadapi Globalisasi[i]
Oleh : Pradita Tria Wirawan[ii]
Menjelang diberlakukannya komitmen perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Area-FTA) antara Indonesia-China pada 1 Januari 2010 silam, hampir sebagian besar media massa mengangkat opini betapa buruknya akibat yang akan ditimbulkan perjanjian tersebut bagi industri nasional. Bukan saja media dan departemen pemerintahan yang terkait dengan perdagangan serta perindustrian saja yang seakan kebakaran jenggot dengan perjanjian tersebut, namun juga pelaku usaha baik industri skala besar, menengah, hingga kecil. Semuanya menyuarakan ketidaksiapannya menghadapi serbuan barang impor dari China yang hampir dapat dipastikan memukul industri nasional. Permasalahannya adalah bukan kepada apa langkah selanjutnya bagi industri nasional pasca pemberlakuan perjanjian tersebut, tetapi lebih kepada siapa hasil dari industri nasional tersebut dijual dan dipasarkan. Hal ini dikarenakan pasar akan semakin sempit jika barang yang lebih murah, seperti barang dari China masuk kedalam pasar nasional. Permasalahan ini kemudian sangat erat kaitannya dengan akses pasar dimana peranan relasi, aksesbilitas komunikasi, fleksibilitas, dan inovasi yang menjadi kunci untuk memenangkan persaingan tersebut.
Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai komponen utama penyokong industri nasional di Indonesia mempunyai peran yang besar dalam usaha meningkatkan daya saing dan pertumbuhan industri nasional. Namun ironisnya, sektor UKM lah yang justru masih mengalami kesulitan terbesar terhadap perluasan akses pasar atas berbagai produknya. Keterbatasan koneksi dan relasi dianggap sebagai salah satu penyebab terbesar sulitnya mencari pasar bagi produk-produk UKM. Keberadaan sektor-sektor UKM yang umumnya jauh dari pusat kota besar seringkali dikaitkan dengan kesulitan aksesbilitas dalam usaha. Bentuk komunikasi yang dilakukan oleh UKM pun masih sederhana sehingga terkadang menyulitkan gerak bisnis yang semakin hari dituntut untuk bergerak dinamis dan cepat. Disisi lain, kemajuan berbagai sarana teknologi komunikasi modern belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh berbagai lapisan UKM di Indonesia secara merata. Tulisan ini akan mencoba menelaah peran penting kehadiran dan perkembangan teknologi informasi, khususnya industri seluler dalam membantu UKM mengembangkan sayap bisnisnya.
Memberi Arti Globalisasi
Telah ada masanya tersendiri ketika pemasaran yang mengandalkan kekuatan dari berbicara langsung secara berantai atau mulut lewat mulut (MLM) mencapai puncak keemasaannya. Yaitu ketika berbicara secara langsung dengan rentang jarak dan waktu yang jauh belum dimungkinkan terjadi. Walaupun strategi pemasaran melalui MLM masih konstektual, artinya masih dapat dijumpai dalam realitas bisnis sekarang, namun pemasaran tersebut terasa kurang efektif ketika persaingan bisnis dihadapkan dengan tuntutan untuk mengutamakan kecepatan dan ketepatan seperti dalam era globalisasi ini. Informasi yang dikehendaki adalah informasi yang ada disaat ini (real time), dan bukan informasi satu atau dua hari silam. Informasi yang dihadirkan melalui berita berantai (MLM) tersebut akan terasa usang ketika gelombang informasi berikutnya bergulir dengan sangat cepat karena kondisi terus berubah setiap waktu.
Konteks diatas nampaknya tepat ketika kita melihat kondisi UKM di Indonesia dimana hampir sebagian besar UKM di Indonesia masih bergantung kepada informasi yang diberikan penyalur atas produk UKM yang dihasilkan. Artinya, pencitraan produk UKM di Indonesia sebagian besar justru tidak dikendalikan oleh pemilik dan pengelola UKM itu sendiri, namun dikendalikan oleh supplier-supplier yang menghubungkan pemilik UKM dengan calon pembeli atau konsumen dengan informasi-informasinya yang mungkin sudah tidak update. Kondisi ini dapat menyebabkan tidak tersampaikannya inovasi produk dari pengusaha UKM kepada konsumen jika supplier tidak mengetahui informasi mengenai inovasi yang dilakukan oleh UKM.
Begitu pula ketika terdapat kondisi-kondisi genting yang sifatnya global sehingga turut mempengaruhi kondisi UKM. Informasi yang diterima oleh UKM dari pihak supplier mungkin hanya sebatas penghentian atau pembatalan pesanan karena sepinya konsumen. Kondisinya akan berbeda jika misalnya, pelaku usaha kerajinan gerabah di Kasongan Bantul telah mengetahui informasi secara langsung kondisi keuangan global yang sedang terpuruk karena krisis. UKM gerabah di Kasongan mungkin akan dapat mengantisipasinya dengan mengurangi produksi gerabahnya untuk sementara waktu agar barang tidak menumpuk di gudang yang dapat berakibat pada rusaknya barang yang telah diproduksi. Kondisi yang sama juga berlaku untuk UKM lain yang umumnya masih mengalami banyak keterbatasan informasi dan akses, apalagi jika UKM berada di pelosok daerah yang jauh dari akses keluar daerah. Eksesnya adalah belum muncul budaya efisiensi dan produktifitas tinggi bagi sebagian besar UKM. Hal itu disertai pula dengan stagnansi pasar karena aksesbilitas yang rendah.
Kondisi diatas sebenarnya menjadi ironi tersendiri ketika era informasi dan teknologi telah hadir dan berkembang sedemikian pesatnya hingga dapat memudahkan komunikasi dan memutus keterisolasian. Globalisasi hadir bukan hanya menjadi ancaman bagi usaha kerena prinsip keterbukaannya, namun juga dapat menjadi peluang untuk mengembangkan pasar dan usaha. Perkembangan informasi dan teknologi masa kini menjadi salah satu bagian kecil dari proses globalisasi untuk menciptakan dan mempercepat terjadinya keterkaitan antar seluruh dunia (worldwide interconnectedness). Sedikit angin segar datang dari berita bahwa UKM di Indonesia mulai sadar akan pentingnya kehadiran teknologi informasi dalam mengoperasionalkan dan mengembangkan bisnisnya. Indonesia merupakan salah satu negara dengan belanja kebutuhan IT UKM yang tergolong tinggi untuk wilayah Asia Pasifik. Dengan pertumbuhan 17 % pada pahun 2008, belanja IT UKM di Indonesia bahkan bernilai US$ 3,5 Milliar[iii]. Rata-rata terserap untuk membeli perangkat komputer dan software yang cukup mahal untuk memudahkan operasional bisnisnya. Namun apakah perangkat IT yang dibeli UKM sudah cukup untuk mendukung fleksibilitas dan efisiensi dalam berbisnis ? Pertanyaan inilah yang mungkin dapat dijawab dengan kehadiran perangkat yang lebih mobile, ringan, canggih, flexible, dan dapat menghadirkan aksesbilitas tinggi bagi pelaku UKM dimanapun berada. Penggunaan perangkat teknologi informasi bagi UKM ini akan dapat memberi arti tersendiri kepada globalisasi yang hadir, bahwasanya globalisasi yang hadir bukan untuk dihindari atau ditakuti, tetapi untuk dihadapi dengan strategi , inovasi, dan kompetisi tinggi.
Kembali Kepada Fungsi
Kehadiran ponsel pintar Blackberry di Indonesia turut mewarnai dinamika industri seluler tanah air. Ponsel yang lebih mencuat karena pengaruh gaya hidup (lifestyle) daripada fungsi aslinya, menjadi fenomena tersendiri bagi peningkatan pengguna Blackberry di Indonesia. Namun demikian, hal yang jauh lebih penting daripada sekedar tren adalah optimalisasi penggunaan Blackberry sehingga dapat menghadirkan produktifitas dan efisiensi tinggi bagi penggunanya. Bagi UKM, kehadiran Blackberry sejatinya dapat difungsikan sebagai “asisten pribadi” dalam mengelola bisnisnya. Bekerjasama dengan operator seluler, fungsi Blackberry dapat lebih dispesifikkan untuk unit usaha atau pengusaha melalui Blackberry Enterprise System (BES). Bagi kalangan UKM penggunaan BES termasuk hal baru yang belum begitu popular penggunaannya untuk membantu kemudahan berbisnis. BES di Indonesia masih terbatas penggunaannya untuk perusahaan-perusahaan besar dengan jaringan yang sudah luas dan mobilitas tinggi.
Mempopulerkan BES sebagai bagian terintegrasi dari strategi pengembangan bisnis UKM mempunyai nilai strategis tersendiri. BES memungkinkan bagi UKM untuk melakukan investasi rendah belanja IT namun optimalisasi perluasan jaringan dan aksesbilitas yang tinggi. Industri seluler memegang peranan penting dalam menyediakan fasilitas infrastruktur komunikasi yang kemudian memudahkan koordinasi dan layanan informasi bagi UKM. Informasi yang diterima secara real time oleh UKM dapat membantu UKM dalam menyusun strategi bisnis kedepan, termasuk menyiapkan diri menghadapi globalisasi. Selain itu juga, inovasi dapat lebih ditingkatkan intensitasnya oleh pengusaha UKM karena ide yang terjaring semakin banyak seiring dengan semakin luasnya informasi. Ketergantungan UKM terhadap penyalur atau supplier juga dapat berkurang sehingga UKM dapat lebih independen dan fokus mencari, membina serta memperluas akses pasarnya sendiri.
Era baru berkomunikasi untuk mengisi tuntutan akan dinamika global yang menekankan efiesiensi dan kompetisi tinggi berbuah kepada kebutuhan untuk terus saling terhubung antar satu dengan yang lain. Industri seluler dengan fasilitas BES-nya hadir untuk membantu adanya ketehubungan antar orang (interconnected people) sehingga dapat memacu produktifitas. Dengan aplikasi kemajuan teknologi industri seluler, BES mampu menawarkan layanan prima terhadap akses data dan kontrol terhadap jaringan sehingga dapat menghadirkan koordinasi yang lebih solid. Fasilitas email Hosted Microsoft Exchange Server yang juga sudah terintegrasi dengan Hosted Microsoft Communication Server dalam BES juga dapat menghadirkan fasilitas dan aplikasi offline chatting/messaging. Ragam fasilitas ini akan sangat membantu bagi kelangsungan bisnis UKM sehingga terciptak efiseinsi tinggi bagi usahanya.
Sebagai sarana penghubung dan pembinaan dengan pasar, aplikasi BES memungkinkan adanya email korporat yang dapat digunakan oleh penggunanya. Email korporat bagi perusahaan kecil akan bermakna sangat besar yang kemudian dapat memberikan nilai tambah tersendiri dimata calon konsumennya. Selain karena kemudahan koordinasi yang dijanjikannya, email korporat akan mendorong kepercayaan pasar bahwa perusahaan yang berkerjasama dengannya adalah perusahaan yang dikelolas secara professional. Kondisi ini akan menguntungkan pengusaha UKM dalam membina hubungan kepercayaan dengan konsumennya sehingga dapat memicu perkembangan hubungan bisnis yang berkelanjutan (business sustainable development) sehingga dapat membentuk citra positif bagi UKM.
Hybridisasi Strategi Komunikasi
Mempopulerkan BES untuk UKM juga berarti memasyarakatkan penggunaan BES bagi dunia usaha di Indonesia. Memasyarakatkan disini juga dapat diartikan sebagai sosialisasi penggunaan BES bagi pelaku bisnis. Bagi UKM di Indonesia yang mayoritas menjalankan aktivitas bisnisnya secara tradisional, mempopulerkan BES dapat menjadi tantangan tersendiri. Mempopulerkan BES berarti juga akan menggeser kebiasaan lama yang dilakukan UKM dalam membentuk citra, yakni mulut lewat mulut (MLM). Selain itu juga mengubah kebiasaan koordinasi UKM yang biasanya dilakukan secara tradisional, misalnya dengan menitipkan pesan kepada orang lain jika tidak bertemu orang yang bersangkutan (bukan mengirim email langsung kepada yang bersangkutan). Dan yang lebih penting adalah menyiapkan pengusaha UKM di Indonesia untuk lebih mawas teknologi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.
Kondisi diatas menjadikan upaya mempopulerkan BES bagi UKM harus dilakukan multipihak. Artinya bukan dilakukan oleh operator seluler seorang karena kepentingan bisnis, namun juga oleh pengusaha UKM yang didukung oleh pemerintah. Pemerintah dapat memulai dengan sosialisasi penggunaan teknologi informasi bagi UKM dan langkah untuk meningkatkan daya saing. Pemerintah melalui departemen terkait diharapkan dapat terus mendorong upaya penggunaan TI bagi UKM bukan hanya melalui sosialisasi ataupun training semata, namun juga memberikan fasilitas kredit bebas bunga untuk pembelian perangkat TI bagi UKM. Langkah tersebut hendaknya juga dibarengi oleh operator seluler yang terus mengembangkan inovasi layanan bagi pengusaha dan bisnis di Indonesia, termasuk UKM. Pengembangan dan penetrasi BES bagi UKM dapat menjadi suatu bakti tersendiri dari pihak operator seluler sebagai bentuk komitmennya terhadap pengembangan bisnis UKM. Untuk itu, selain sosialisasi gencar akan keistimewaan, kemudahan, dan kepraktisan penggunaan BES untuk UKM, operator seluler juga dapat melakukan promosi gratis percobaan (trial time) penggunaan BES unutk UKM. Hal ini dapat menjadi langkah tersendiri untuk terus mempopulerkan dan memperluas penetrasi penggunaan BES di kalangan UKM. Dengan adanya masa percobaan tersebut, diharapkan UKM dapat merasakan manfaat secara langsung menggunakan fasilitas BES sehingga secara sadar dapat menggunakan BES sebagai bagian penting dalam aktifitas bisnisnya. Di pihak UKM, UKM sudah seharusnya membuka diri dengan perubahan dan inovasi di lingkungan sekitar sehingga diharapkan tidak resisten dengan perkembangan penggunaan TI dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Kolaborasi multipihak tersebut diharapkan akan terus mendorong UKM agar dapat terus meningkatkan layanan dan daya saingnya sehingga dapat berkompetisi secara penuh dalam era gobalisasi.
Kolaborasi yang baik membutuhkan penyesuaian yang baik pula. Sekiranya hal itu juga tepat dikontekskan dalam penggunaan BES bagi UKM. Hybridisasi dalam teori globalisasi dapat diartikan secara sederhana sebagai penggabungan. Artinya penggabungan dua atau lebih kebiasaan atau budaya yang berbeda menjadi satu budaya baru yang sarat dengan unsur lokal. Aplikasi teknologi yang terdapat pada BES sebenarnya sangat mendukung kebiasaan untuk stategi marketing mulut lewat mulut. Akses internet berkecepatan tinggi yang tidak terbatas dan juga sambungan telepon yang memungkinkan hingga ke pelosok sangat mendukung hubungan langsung antar orang. Percampuran kebiasaan ini terdapat pada penggabungan kebiasaan komunikasi melalui perangkat teknologi dengan kebiasaan sehari-hari sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang suka mengobrol. Penyesuaian aplikasi BES untuk UKM juga terdapat dalam kebiasaan untuk menitipkan pesan. Hanya saja penyesuaiannya adalah pesan dititipkan kedalam email pribadi yang disimpan dalam server khusus sehingga dapat dibuka kembali sewaktu-waktu jikalau dibutuhkan. Hal ini juga turut mendukung UKM agar dapat lebih tersistemasi dalam mengorganisasi usahanya.
Penyesuaian dengan menggunakan perangkat teknologi informasi merupakan strategi komunikasi tersendiri bagi UKM dalam mempertahankan bisnisnya ditengah arus globalisasi. Industri seluler memegang peran penting dalam upaya mempersiapkan UKM agar siap menggunakan TI dalam bisnisnya secara optimal melalui layanan BES. Tidak hanya itu, melalui kolaborasi multipihak antara pemerintah, industri seluler, dan UKM, layanan BES dapat menjadi salah satu tulang punggung bagi pengembangan bisnis UKM karena standar kompetisi usaha di masa yang akan datang semakin tinggi. Pada akhirnya, penggunaan BES oleh UKM dapat memenuhi kebutuhan komunikasi, aksesbilitas, fleksibilitas, perluasan pasar dan mendorong inovasi, sehingga meningkatkan daya saing UKM yang juga akan meningkatkan daya saing industri nasional.
[i] Naskah Lomba XL Writing Competition 2009 yang dipublikasikan di http://praditatria.wordpress.com/
[ii] Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UGM
[iii] Artikel “2008, Belanja TI UKM Indonesia US$3,5 M”, sumber Investor Daily dalam http://www.ciptapangan.com/index.php?action=view&id=4244&module=newsmodule&src=%40random47038b0445421