January 4, 2009 by praditatria

Posting Tulisan Honda Writing Competition 2008 yang Alhamdulillah menjadi juara 1 kategori Mahasiswa.

Etika Berkendara dan Cerminan Budaya Bangsa

Oleh : Pradita Tria Wirawan

Memasuki era globalisasi saat ini, masyarakat modern dituntut untuk mempunyai mobilitas yang tinggi. Mobilitas yang tinggi tersebut mendorong terjadinya kepadatan lalu lintas barang dan manusia di seluruh dunia. Melihat perkembangan yang ada dari kepadatan lalu lintas tersebut, semakin banyak ditemukan fakta yang menunjukkan bahwa jalan raya justru menjadi ladang pembunuhan manusia modern. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa 1 juta orang diseluruh dunia meninggal setiap tahun di jalan raya akibat kecelakaan, dimana 40 % diantaranya berusia dibawah 25 tahun. Pada tahun 2020 angka tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 1,4-1,6 juta jiwa manusia melayang di jalan raya. Sementara itu, jutaan orang lainnya mengalami luka parah dan cacat fisik akibat kecelakaan[1]. Di Amerika, sejak kendaraan bermotor ditemukan sebanyak 3 juta jiwa telah melayang akibat kecelakaan jalan, yang berarti lebih banyak dari korban perang revolusi hingga korban invasi AS ke negara lain.

Di Indonesia, angka kecelakaan jalan raya juga menunjukkan tren yang selalu meningkat setiap tahunnya. Data Departemen Perhubungan RI menunjukkan bahwa tahun 2003 terdapat 13.399 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia dimana 9.386 diantaranya melibatkan sepeda motor. Kemudian tahun 2004 terdapat 17.734 kecelakaan dan 14.223 diantaranya melibatkan sepeda motor. Angka tersebut semakin bertambah pada tahun 2005 dimana terdapat 33.827 kecelakaan dan 36 % diantaranya (12.178 orang) meninggal dunia. Angka tersebut juga berarti 33 orang meninggal di jalan raya setiap harinya. Pada tahun 2006, jumlah ini semakin mencemaskan karena terdapat 36.000 korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas dimana 19.000 diantaranya merupakan pengendara sepeda motor[2]. Jumlah kecelakaan diatas merupakan kecelakaan yang tercatat secara resmi dan belum termasuk angka kecelakaan yang tidak dilaporkan seperti di tempat-tempat terpencil dan pedesaan.

Dari segi kerugian materi, kecelakaan di jalan telah mengakibatkan kerugian hingga 1-3 % dari PDB sebuah negara. Diperkirakan total dari kerugian ekonomi akibat kecelakaan mencapai US$ 500 milliar dollar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut tersebut, sekitar US$ 440 milliar dollar diderita oleh negara maju, sedangkan negara berkembang menderita kerugian sekitar US$ 60 milliar Dollar. Di Indonesia, kerugian materi akibat kecelakaan pada tahun 2005 mencapai Rp 55,2 milliar yang mengalami pertumbuhan sekitar 2,2 % dibandingkan tahun sebelumnya[3].

Budaya Masyarakat Instan

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya peningkatan jumlah kecelakaan di jalan setiap tahunnya. Faktor tersebut antara lain adanya paradigma berpikir masyarakat instan di jaman modern, mulai lunturnya sensitifitas dalam berkendara, dan minimnya etika berkendara untuk tertib, saling menghormati, saling menghargai, sehingga mengakibatkan semakin tergerusnya rasa kepemilikan akan sesuatu. Faktor-faktor diatas mempunyai hubungan kausalitas atau sebab akibat yang saling berkaitan antara satu sama lain. Faktor tersebut dapat disederhanakan menjadi 3 faktor utama penyebab kecelakaan, yaitu manusia, kendaraan, dan lingkungannya. Diantara ketiga faktor tersebut, faktor kesalahan manusia (human error) merupakan penyebab kecelakaan yang tertinggi yakni 86,8 % dari total kecelakaan yang terjadi[4], dimana hal ini berkaitan erat dengan etika berkendara di jalan raya. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana etika berkendara dapat menciptakan kenyamanan dan keselamatan di jalan raya ? Dan apa korelasi positif antara etika berkendara dengan tingkat peradaban budaya sebuah bangsa ?

Penjelasan dari faktor utama (the main factor) yang dapat menjelaskan bagaimana jalan raya dapat menjadi ladang pembunuhan bagi manusia modern adalah adanya kenyataan bahwa kehidupan manusia modern tidak dapat dipisahkan dari pergerakan yang dinamis, fleksibel, cepat dan efisien dalam melakukan segala hal. Ini adalah tuntutan global di tengah persaingan yang kian kompetitif seperti sekarang. Implikasi positifnya adalah perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, termasuk adanya berbagai inovasi dalam bidang pengembangan alat transportasi. Namun, hal tersebut juga mendorong berkembangnya pola pikir praktis pragmatis dalam masyarakat yang justru dapat menghambat perkembangan pengetahuan itu sendiri. Sikap pola pikir praktis prakmatis masyarakat tersebut pada akhirnya akan terbawa pada saat membawa kendaraan di jalan raya sehingga dapat dengan mudah mengabaikan prinsip kehati-hatian dan kewaspadaan di jalan raya. Seseorang akan lebih mudah mengabaikan kepentingan orang lain dengan mengesampingkan adanya sikap toleransi dan kehati-hatian di jalan raya hanya karena diburu waktu dan ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Alih-alih mengembangkan berbagai perangkat keselamatan canggih dalam kendaraan di masa modern ini, jumlah kecelakaan dan kerugian materiil maupun immateriil akibat kecelakaan justru semakin meningkat dari masa ke masa.

Selain itu, melihat perkembangan faktor sosial budaya di Indonesia, pola pikir masyarakat yang praktis pragmatis dalam berkendara di jalan raya juga telah melahirkan masyarakat instan baik saat berkendara maupun diluar berkendara. Masyarakat instan ini kemudian mendorong lunturnya etika dalam berkendara di jalan raya. Semua orang ingin dilayani dengan cepat sehingga memunculkan sikap saling terabas. Prof. Koentjaraningrat seorang pakar antropologi di dalam bukunya Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan menyebutkan bahwa salah satu kelemahan dari sifat mental bangsa Indonesia sesudah revolusi adalah apa yang disebut sebagai mental menerabas. Mental menerabas tersebut adalah nafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan utnuk berusaha dari permulaan secara selangkah demi selangkah. Sifat mental tersebut sejalan dengan sifat-sifat negatif lainnya seperti pelanggaran disiplin, suka mengabaikan tugas, dan meremehkan mutu dari proses yang dilakukan[5]. Fakta ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Koentjaraningrat selama tiga dasawarsa terakhir. Namun melihat perkembangan yang ada saat ini, sifat tersebuti tidak semakin berkurang bahkan semakin mengakar dan menggurita di segala lini kehidupan masyarakat Indonesia.

Sifat menerabas ini sekarang tercermin dari perilaku pengemudi di jalan raya yang lebih menekankan ego masing-masing pengendara, terlebih disaat jalanan macet. Akibatnya pengendara cenderung mengabaikan peraturan lalu lintas yang ada, seperti penggunaan helm standar yang dapat melindungi kepala dengan penuh, mengendarai kendaraan secara serampangan, serta minimnya sikap untuk saling menghargai dan menghormati antar sesama pengguna jalan.

Selain itu, mental menerabas juga dapat dilihat dari bagaimana cara mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) secara praktis yaitu melalui calo atau ”menembak” petugas. Cara mendapatkan SIM seperti ini sudah tidak asing lagi di hampir semua wilayah di Indonesia. Padalah SIM merupakan lisensi resmi yang dapat membuktikan kelayakan seseorang untuk dapat mengendarai kendaraan sehingga tidak membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain. Jika cara mendapatkan lisensinya saja sudah melalui cara yang tidak jujur, maka tidaklah mengherankan apabila pengendara kendaraan bermotor belum mempunyai kesiapan psikis walaupun sudah siap secara fisik (umur dan kondisi tubuh sudah mencukupi), sehingga kurang mempertimbangkan faktor resiko keselamatan di jalan. Ketidaksiapan psikis pengendara ini kemudian akan menyebabkan seorang pengendara kehilangan sensitifitas atas apa yang dimilikinya (baca : kesehatan dan kendaraan) hingga menganggap kecelakaan adalah hal yang biasa dalam berkendara.

Safety Riding + Devensif Driving = Budaya Keselamatan Jalan

Perkembangan pesat penjualan motor di Indonesia sebagai pilihan praktis dan efisien bagi masyarakat Indonesia menempatkan posisi pengendara ini sebagai pihak yang paling rawan untuk menjadi korban dalam sebuah kecelakaan. Tahun 2008 ini Departemen Perhubungan RI mengumumkan bahwa 8 dari 10 kecelakaan di Indonesia melibatkan sepeda motor sebagai korban. Hal ini dapat dimaklumi dengan melihat data penjualan sepeda motor yang spektakuler dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 jumlah total kendaraan bermotor yang terdaftar di Indonesia mencapai 26 juta unit, dimana 76 % diantaranya atau 19 juta unit merupakan sepeda motor[6]. Pada tahun 2007, populasi untuk sepeda motor saja sudah mencapai 35 juta unit atau meningkat 54,2 % dibandingkan tahun 2003[7]. Sementara itu, pertumbuhan panjang jalan tidak dapat mengimbangi pertumbuhan kendaraan bermotor. Berdasarkan data dari Departemen PU, dari tahun 2000-2004 pertumbuhan jalan nasional pertahunnya hanya 7,15 % saja.

Pilihan masyarakat yang menjadikan kendaraan sepeda motor menjadi alat transportasi andalan tidak lepas dari pilihan rasional (rational choise) masyarakat Indonesia. Sepeda motor dianggap mempunyai banyak keunggulan dibandingkan moda transportasi lain karena efisien, lincah, gesit, terjangkau dari segi harga, dan irit bahan bakar. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena pemudik dengan sepeda motor yang terkadang membawa muatan yang berlebihan dan mengesampingkan resiko keselamatannya. Selain itu, pengendara sepeda motor juga memerlukan banyak perangkat keselamatan untuk melindungi dirinya dari kecelakaan yang mungkin terjadi. Perangkat keselamatan wajib seperti helm standar (safety helmet), jaket keselamatan (jacket helmet), sarung tangan (safety glove), dan sepatu (safety shoes) terkadang diabaikan karena pertimbangan fleksibilitas dan dianggap mengganggu kenyamanan berkendara. Mengingat besarnya jumlah pengendara sepeda motor dan faktor resiko yang dihadapi pengendara sepeda motor, maka dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang baik akan etika berkendara di jalan raya, cara berkendara yang baik, ketrampilan berkendara, dan perangkat berkendara yang diperlukan.

Salah satu langkah sosialisasi dalam rangka menekan angka kecelakaan, khususnya bagi pengendara sepeda motor adalah pengenalan konsep safety riding. Dalam hal ini, pengendara sepeda motor akan dikenalkan dengan berbagai perangkat keselamatan, pengujian ketrampilan berkendara, pengenalan karakteristik kendaraan, dan pengenalan mengenai etika dasar berkendara di jalan raya. Langkah awal ini penting untuk menyadarkan pengendara kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor akan resiko berkendara sehingga dapat meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan di jalan raya.

Namun sepertinya pengenalan dan kampanye konsep safety riding saja tidaklah cukup untuk menjelaskan kepada pengendara kendaran bermotor mengenai keselamatan di jalan raya. Diperlukan sebuah sistem yang lebih kompeherensif dan menyeluruh sehingga pengendara kendaraan bermotor benar-benar sadar dan paham akan pentingnya menjaga dan membudayakan keselamatan di jalan raya. Konsep safety riding kemudian dikembangkan menjadi defensive driving. Defensive Driving ini dapat dikatakan sebagai antitesis dari Arrogant Driving dan merupakan pengembangan lebih lanjut dari safety riding yang sudah populer lebih dahulu. Jika konsep safety riding lebih menekankan kepada penguasaan kemampuan dan ketrampilan mengendarai kendaraan, maka defensive driving lebih mengarah kepada pengendalian pola, cara, mental serta attitude pengendara. Setidaknya terdapat empat kunci utama prinsip defensive driving tersebut yaitu :

  1. Kewaspadaan (Alertness), merupakan faktor utama yang menjamin pengendara untuk selalu siaga dan waspada. Ini adalah sistem perlindungan pertama jika menghadapi pengendara lain yang berlaku serampangan di jalan raya. Pengendara tidak akan mudah terpengaruh untuk mengikuti tindak serampangan di jalan raya karena ia sadar sepenuhnya akan bahaya yang mungkin dapat muncul akibat tindakan tersebut.
  2. Kesadaran (Awarness), adalah penguasaan diri dalam berkendara. Pengendara yang mempunyai kesadaran penuh dan memiliki prosedur berkendara dengan baik, benar, dan aman akan selalu terdorong untuk tertib pada peraturan yang ada. Selain itu, pengendara yang mempunyai kesadaran penuh dalam berkendara tidak akan bersikap membahayakan bagi keselamatan dirinya dan orang lain.
  3. Sikap dan Mental (Attitude), merupakan faktor dominan yang sangat menetukan keselamatan di jalan raya. Seseorang yang dapat mengendalikan sikap di jalan raya berarti dapat mengendalikan egonya. Dengan pengendalian ego di jalan raya, maka akan muncul sikap untuk memperhatikan kepentingan orang lain selain kepentingan diriinya. Sikap emosional yang memicu arrogan driving dapat dihindarkan. Dari pengendalian sikap ini maka dapat lahir budaya tertib untuk antri, saling menghormati dan menghargai antar pengguna jalan sehingga keruwetan dan kecelakaan lalu lintas dapat dihindari.
  4. Antisipasi (Anticipation), merupakan hal yang penting mengingat dengan sikap ini maka akan timbul upaya inisiatif untuk dapat mengantisipasi segala kejadian yang tidak terduga di jalan raya.

Dalam konsep defensive driving ini, faktor pengenalan atas karakteristik kendaraan yang dipakai sehari-hari sangat penting karena menyangkut pengambilan sikap reflek spontan, kewaspadaan, kesadaran berkendara, dan upaya antisipasi dengan cepat. Pengenalan karakteristik kendaraan ini dapat dilakukan dengan cara mengenali sistem pengereman, bobot kendaraan, laju kecepatan, dan masalah kenyamanan kendaraan yang digunakan. Hal ini penting karena merupakan faktor kedua penyebab kecelakaan selain manusia (human error) dan lingkungan. Menurut dr. Aviandy Sukarto Msc.SpKP, tentang kesigapan reaksi atas obyek yang datang tiba-tiba menyebutkan bahwa saat melihat sesuatu mata menscaner objek dan mendapatkan kesan dalam tempo 0,02 detik. Lalu gambaran objek tadi dikirim ke otak untuk diinterpretasikan dalam waktu 1,55 detik. Ini penangkapan gambar untuk objek statis, jika objeknya bergerak akan dibutuhkan waktu lebih lama. Ini artinya reaksi spontan yang terkendali sangat diperlukan dalam mengatasi suatu keadaan yang membutuhkan reaksi cepat seperti menghindari kecelakaan.

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa upaya menumbuhkan budaya keselamatan jalan dibutuhkan partisipasi dari berbagai pihak baik pengguna jalan (termasuk pejalan kaki), kelompok perkumpulan, pengendara kendaraan, maupun pemerintah (Dinas Perhubungan dan Kepolisian RI). Hal ini dapat dipahami karena faktor utama penentu keberhasilan dari langkah awal upaya menumbuhkan kesadaran budaya keselamatan di jalan, dimulai dari adanya transfer pemahaman akan etika berkendara dan faktor lain yang menyangkut keselamatan di jalan raya.

Disiplin dan Gerakan Budaya

Konsep safety riding dan pengembangannya seperti defensive driving diatas, membutuhkan komitmen tinggi agar dapat diaplikasikan secara luas dalam masyarakat dan dapat dilakukan secara berkesinambungan untuk menunjang budaya keselamatan di jalan. Hal ini dapat ditumbuhkan melalui penanaman sikap kedisiplinan tinggi di jalan raya. Sifat disiplin merupakan pilar dari adanya etika berkendara kerena budaya disiplin dalam berkendara mempengaruhi banyak aspek diantaranya adalah aspek tertib aturan, tertib sikap, tertib etika, dan tertib berkendara.

Selama ini, masyarakat Indonesia belum terbiasa untuk menumbuhkan sikap disiplin di berbagai bidang, termasuk di jalan raya. Akibatnya adalah terjadi banyak pelanggaran dan upaya untuk menyiasati sebuah peraturan tertentu di jalan raya. Dampak lanjutannya adalah, pengendara akan lebih memprioritaskan faktor kecepatan daripada faktor keselamatan dalam berkendara. Ini tidak lepas dari adanya pola pikir masyarakat yang instan dan kebiasaan buruk yang dibiasakan sehingga menjadi kecenderungan bersikap yang sulit untuk dilepaskan. Contohnya kecilnya adalah kebiasaan masyarakat yang cenderung lebih tertib berkendara ketika ada petugas atau polisi didekatnya. Hal ini dapat diartikan bahwa etika berkendara secara baik belum mendarah daging di tubuh masyarakat Indonesia karena belum lahir dari hati dan masih diperlukan bimbingan penuh untuk dapat membudayakan kebiasaan yang baik seperti disiplin di jalan raya.

Argumen diatas diperkuat oleh pernyataan Prof. Koentjaraningrat dan Mohtar Lubis yang mengatakan bahwa manusia Indonesia belum mempunyai disiplin murni. Sifat mental menerabas dapat diartikan sebagai kurangnya kesabaran dan lemahnya pengendalian diri sehingga memunculkan tindakan indisipliner (tidak disiplin) yang akan berimplikasi kepada pelanggaran norma-norma hukum serta norma-norma sosial yang berlaku[8]. Padahal, disiplin diri menunjukkan keunggulan karena disiplin dibentuk dari kebiasaan yang sederhana namun mempunyai hasil yang sangat revolusioner.

Dalam konteks yang lebih luas, disiplin berdimensi sosial-kultural dimana seringkali harus ditumbuhkan melalui hukuman. Artinya, aspek kebiasaan atau faktor kultural merupakan faktor pembentuk utama dari upaya penegakan disiplin tersebut. Disiplin juga mempunyai aspek sosial dimana disiplin hanya akan bisa ditumbuhkan jika ada keyakinan bersama (common belief) akan urgensi dari sikap disiplin tinggi dalam masyarakat. Selain memiliki dimensi sosial-kultural, disiplin juga memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada disiplin mati tanpa toleransi sedikitpun yang berorientasi kepada hasil. Disiplin pada jenis ini lebih menekankan optimalisasi efek jera untuk kepentingan bersama. Selain itu, juga terdapat disiplin yang kontekstual mengacu kepada budaya suatu komunitas yang mengenal toleransi dan dilakukan secara bertahap.

Sejatinya, masyarakat Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk mulai membudayakan disiplin dengan mengembangkan sifat dasar mayoritas masyarakat indonesia yang mempunyai rasa toleransi yang tinggi dan ramah terhadap orang lain. Kedua hal tersebut merupakan modal dasar yang penting untuk dapat menjadikan disiplin sebagai suatu cara pandang yang umum ditengah masyarakat Indonesia. Permasalahan inti dalam menegakkan disiplin di Indonesia adalah belum adanya perangkat aturan yang tegas untuk menindak pelaku pelanggaran. Jikalau peraturan tersebut sudah ada, seringkali implementasi di lapangan tidak sesuai dengan prosedur penanganan yang baku. Kebiasaan inilah yang membuat sebagian besar masyarakat Indonesia terlena dengan pemberian kemudahan atas pelanggaran yang dilakukan. Kebiasaan yang telah dilakukan dalam kurun waktu yang lama ini akhirnya mendarah daging dan sulit untuk dilepaskan sehingga mengarahkan masyarakan Indonesia kepada perilaku indisipliner akut. Hal ini tentunya akan merusak tatanan asli masyarakat yang ada dimana sikap untuk saling menghargai dan mengormati antar sesama sangat dijunjung tinggi oleh masyarkat Indonesia.

Dalam hubungannya dengan perilaku berkendara di jalan raya, disiplin berlalu lintas merupakan kunci pokok untuk mengindari kemungkinan terjadinya kecelakaan. Faktor kekalaian manusia sebagai penyebab terbesar kecelakaan di Indonesia dapat diminimalisir dengan dengan adanya budaya disiplin yang akan melahirkan budaya tertib dan etika berkendara yang baik di jalan raya. Contohnya adalah berkurangnya angka kecelakaan setelah diberlakukannya aturan sepeda motor dikiri jalan dan penyalaan lampu di siang hari. Disiplin kontekstual ini dimulai dari lingkungan yang paling kecil dan diperluas sehingga dapat menjadi nilai yang dapat terinternalisasi di setiap lapisan masyarakat. Ketika lingkungan masyarakat merasakan manfaat akan disiplin berlalu lintas, maka saat itulah disiplin dapat dikatakan menjadi sebuah gerakan budaya.

Menarik Benang Merah

A thousand miles journey begin with a small step (Lao Tse). Sekiranya pernyataan yang penuh arti filosofis tersebut dapat menguatkan mental dan tekad kita untuk mulai membangun budaya disiplin dan tertib di jalan dari sekarang. Budaya disiplin dan tertib di jalan akan berbuah etika berkendara yang baik sehingga memunculkan sikap untuk saling mengerti, memahami, dan toleransi antar sesama pengguna jalan. Pada akhirnya, etika yang baik dalam berkendara dapat meminimalirsir terjadinya kecelakaan yang dapat menimbulkan banyak kerugian baik materi maupun immateri, seperti hilangnya nyawa seseorang. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan suasana keamanan dan kenyamanan dalam berkendara, maka diperlukan etika berkendara yang ditopang oleh sikap disiplin dan tertib pengendara kendaraan. Untuk itu diperlukan suatu komitmen dalam membangun masyarakat berbudaya disiplin tinggi dan tertib dengan mulai melakukan hal-hal kecil seperti kebiasaan untuk taat peraturan. Tentunya taat peraturan disini bukanlah taat karena takut kepada pengawas tetapi karena kesadaran hati atas dorongan untuk melindungi hak pribadi dan hak orang lain.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa etika berkendara pada suatu masyarakat mencerminkan seberapa tinggi tingkat peradaban masyarakatnya dalam berbudaya. Apakah akan menjadi komunitas masyarakat yang arogan, teledor, atau menjunjung tinggi toleransi. Semua hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana ketertiban di jalan dapat diwujudkan. Hal tersebut dikarena jalan merupakan tempat bertemunya berbagai macam tipe orang, sehingga harmonisasi antar masyarakat yang berbeda dapat diusahakan untuk menciptakan keteraturan. Setelah kita mengurai benang kusut mengenai masalah keamanan dan kenyamanan berkendara di jalan raya dan menarik benang merahnya sehingga diketahui letak permasalahan, apakah kita akan terjebak kepada permasalahan yang sama di kemudian hari ?

Daftar Pustaka

Antara News. 2007. http://www.antara.co.id/catidx/?ch=int, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

Dephub RI. 2006. ”Keselamatan Transportasi di Indonesia”. Direktorat Keselamatan Transportasi Darat. Departemen Pehubungan. Jakarta.

Hambali, Muhammad Wildan. 2006. ” Disiplin Sebuah Gerakan ”. http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/thrd15.html, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

Republika Online. 2003. ”Konsep Devenssife Riding”. http://republika.co.id/suplemen/default.asp?mid=4, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

Kompas Cyber Media. 2007. “ Angka Kecelakaan dan Gerakan Safety Riding Saling Mengejar”. Jumat 4 Mei 2007. http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0705/04/Otomotif/, diunduh tanggal 17 Februari 2008

Sinar Harapan Online. 2007. “Kampanye Aman dan Nyaman dalam Berkendara”, tanggal 15 Maret 2007. http://www.sinarharapan.co.id/feature/otomotif/index.html, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

Situs Resmi Departemen Perhubungan RI, http://www.dephub.go.id, 2006, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

Sutawi. 2006. “ Bersama Kita Bisa Membangun Budaya Keselamatan di Jalan”, Departemen Perhubungan RI. Jakarta


[1] Dikutip dari situs resmi Antara News 20 April 2007, dalam http://www.antara.co.id/catidx/?ch=int, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

[2] Kompas Cyber Media dalam artikel “ Angka Kecelakaan dan Gerakan Safety Riding Saling Mengejar”, Jumat 4 Mei 2007, dalam http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0705/04/Otomotif/, diunduh tanggal 17 Februari 2008

[3] Sutawi, “ Bersama Kita Bisa Membangun Budaya Keselamatan di Jalan”, Jakarta, 2006

[4] Situs Resmi Departemen Perhubungan RI, http://www.dephub.go.id, 2006, dunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

[5] Koentjaraningrat, ”Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan” dalam Artikel oleh Muhammad Wildan Hambali ” Disiplin Sebuah Gerakan ”, 24 Mei 2006, diunduh dari situs http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/thrd15.html, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

[6] Kompas Cyber Media 10 Maret 2005 dalam http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0705/04/Otomotif/, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30

[7] Sinar Harapan Online dalam artikel “Kampanye Aman dan Nyaman dalam Berkendara”, tanggal 15 Maret 2007 dalam http://www.sinarharapan.co.id/feature/otomotif/index.html, diunduh tanggal 17 Februari 2008 pukul 22.30 WIB

[8] Koentjaraningrat dalam Artikel oleh Muhammad Wildan Hambali, op cit.

Unexpected thing for Honda Writing Competition 2008

January 4, 2009 by praditatria

Postingan kedua nih,.berupa cerita…tentang keselamatan berkendara di jalan..

Tulisan ini juga sebagai naskah lomba Honda Writing Competition 2008.

and Finally,.the unexpected thing is ,.i got 1 st winner in this competition kategori mahasiswa. Thanks God for this blessing.

Hadiah sebuah Motor Tiger mampir kerumah.(walau awalnya aq gak bisa naik motor berkopling),.tapi hadiah motor Tiger ini membuatku menjadi terpacu untuk latihan naik motor berkopling…(hahaha,.not takes a long time to adjust it)

tapi yang pasti,.kemenangan ini menjadi berkah sekaligus ujian untuk bisa terus meng-upgrade diri. kemenangan ini juga sekaligus menjadi kado ulang tahunku ke 20 pada 20 maret 2008 silam (dan penyerahan hadiah dilakukan sekitar tanggal itu), dan anehnya lagi,.lomba itu diadakan karena memperingati produksi ke 20 juta motor honda di indonesia dan menang membawa motor dengan harga sekitar 20 jutaan. lucky 20….

Yang pasti hanya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada orang-orang terdekatku,.atas semangatny,.atas pinjaman komputer yang sekarang udah pensiun (have a lot of memory tuh computer), pinjeman laptop kakakku juga yang sekarang dah ilang (hampir semua tulisannya aq buat pake laptop kakakku yg sekarang dah ilang)..dan smua teman-teman atas pengertiannya (kelompok cihuy PKMM ke Gunung Kidul yang gak aq datangi 1 kali karena harus ke Jakarta)..

berikut copy nama pemenang yang didapet dari Blog tetangga,.(Secara aq baru punya blog skarang dan itu berarti hampir 1 tahun dari kemenangan lomba itu..)

PEMENANG HONDA WRITING FEVER COMPETITION 2008A H M
PT Astra Honda Motor. Selamat Kepada Para Pemenang !

Inilah Para Pemenang HONDA WRITING FEVER COMPETITION 2008 !

Kategori Pelajar SMA
Juara I Alfa Hidjrika Wisda Kusuma | SMA Taruna Nusantara, Magelang
Juara II Dwi Widayat | SMA Negeri 1 Ponorogo, Jawa Timur
Juara III Yogi Tri Prasetyo | SMA Negeri 1 Gresik, Jawa Timur

Kategori Mahasiswa/i
Juara I Pradita Tria Wirawan | Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Juara II Puspita Anggraini | Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya
Juara III Joni Lis Efendi | Universitas Riau

Kategori Umum
Juara I Ristadi Widodo Kinartojo | Madiun, Jawa Timur
Juara II Zacky Khairul Uman | Depok, Jawa Barat
Juara III Nunung Prajarto, M.A., Ph.D | D.I. Yogyakarta

Kategori Penulis
Juara I Trufi Murdianti | Radar Tanggamus – Lampung
Juara II Erwan Widyarto | Jawa Pos – Radar Jogja
Juara III Helfizon Assyafei | Harian Pagi Riau Pos Group

Hadiah Pemenang Setiap Kategori
Juara I Honda Tiger* + Trophy + Serifikat
Juara II Honda Supra X 125* + Trophy + Sertifikat
Juara III Honda Fit X* + Trophy + Sertifikat

* Off the road
Keputusan Dewan Juri bersifat mandiri, mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Sumber : Kompas, 22.03.08

Karya Tulis XL 2008

January 3, 2009 by praditatria

WOOOOOWWW,.The first blog posting…..

Postingan blog pertama nih..

masih belajar untuk mau aktif nge-blog. dipostingan pertama ini memuat karya tulis yang ditujukan untuk Lomba XL Award 2008 Writing and Photo Competition. Semoga berhasil. Amien. (Versi editing terakhir)

Era Tarif Murah Industri Seluler Indonesia:

Jalan Menuju Masyarakat Berbasis Informasi dan Teknologi

Oleh : Pradita Tria Wirawan

“The way we communicate with others and with ourselves ultimately determines the quality of our lives” (Anthony Robbins)

Euforia akan tarif murah telepon seluler disambut dengan gegap gembita oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kehadirannya telah banyak mengubah wajah dunia telekomunikasi Indonesia. Seakan ikut mengiringi semakin pesat dan canggihnya laju pertumbuhan industri seluler di Indonesia, penawaran tarif murah operator seluler telah memberi kesempatan kepada jutaan pengguna ponsel untuk dapat memanfatkan se-optimal mungkin fitur dalam ponsel, mulai dari sms, telepon, akses internet hingga video call. Jika dahulu pengguna ponsel, terutama yang berasal dari kalangan menengah kebawah, masih ragu dan harus berpikir ulang untuk menghubungi sanak saudaranya, atau teman, melalui ponsel karena takut akan dikenakan biaya mahal, maka sekarang hal itu tidak lagi menjadi kendala. Stigma tarif mahal atas panggilan dari ponsel ke ponsel ataupun PSTN bahkan panggilan yang berbeda operator sekalipun seakan telah runtuh. Hal tersebut turut mengubah kebiasaan masyarakat dalam berkomunikasi melalui ponsel.

Perubahan kebiasaan masyarakat dalam berkomunikasi melalui ponselpun berdampak kepada semakin lancarnya arus informasi di masyarakat. Transfer pengetahuan juga dapat berjalan cepat seiring dengan pesatnya laju dan arus informasi. Masyarakat akan semakin produktif dan efisien dalam menjalankan aktivitasnya. Tembok keterbatasan komunikasi karena wilayah geografi, bentang alam, waktu, bahkan kesenjangan sosial pun dapat terhapuskan secara perlahan karena kehadiran era tarif murah operator seluler ini. Secara tidak langsung, fenomena ini mendekatkan masyarakat Indonesia dari berbagai segmen, kepada teknologi dan informasi yang memang tidak dapat dielakkan perkembangannya. Masyarakat Indonesia menjadi semakin familiar dengan perkembangan teknologi mulai dari tingkat masyarakat desa hingga masyarakat urban kota yang sibuk. Tulisan ini akan mencoba menarik alur hubungan kausalitas atau sebab akibat antara fenomena tarif murah operator seluler dan upaya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sadar akan kebutuhan teknologi dan informasi yang berkembang sangat cepat.

Sebuah Kemajuan Peradaban

“Dampak kehadiran telepon genggam pada negara-negara berkembang sama revolusionernya dengan dampak adanya jalan raya, rel kereta api dan pelabuhan, sehingga mempererat kesatuan sosial dan mendorong bangkitnya semangat wirausaha yang merangsang kegiatan perdagangan dan membuka lapangan kerja” (Profesor Leonard Waffermen)

Peranan ponsel bagi kemajuan peradaban bukanlah sekedar kata pemanis belaka, namun telah menjadi fakta. Ponsel masa kini bukanlah sekedar telepon, ia adalah alat yang sempurna dan efisien untuk menjadi alat komunikasi bergerak yang dapat menyediakan arus informasi bagi pendidikan, perawatan kesehatan, dan juga keselamatan umum. Namun lebih dari itu, ponsel telah menghadirkan sebuah jejaring komunikasi lintas batas yang dibutuhkan oleh semua orang dan juga memutar roda ekonomi suatu negara dalam kapasitas yang besar. Maka, tidaklah mengherankan apabila Telecommunications Management Group mencatat bahwa peningkatan sebesar 1 persen dalam penetrasi telepon seluler di sejumlah negara berkembang berkorelasi dengan peningkatan penghasilan per kapita rata-rata sebesar 4,7 persen[1]. Pada kenyataannya, ponsel juga telah menjadi kebutuhan mendasar bagi semua golongan termasuk golongan masyarakat menengah kebawah.

Majalah The Economist juga menyebutkan bahwa telepon genggam semakin diakui sebagai alat yang sangat berguna dalam upaya mengentas kemiskinan, karena alat ini memotong biaya transaksi, memfasilitasi kegiatan wirausaha dan mampu menggantikan sistem transportasi dan pos-pos yang lamban serta tidak dapat diandalkan. Untuk itu PBB menargetkan sasaran sebesar 50 % dari penduduk dunia telah memiliki akses terhadap jaringan telepon seluler pada tahun 2015[2]. Elemen utama dari besarnya pengaruh ponsel sebagai sebuah kemajuan peradaban adalah karena muatan informasi yang dihantarkannya. Informasi yang bergerak cepat sesuai dengan ritme kemajuan jaman, menuntut manusia modern untuk dapat bergerak dinamis dan flexibel terhadap segala bentuk penyesuaian jaman, termasuk transfer informasi. Fungsi efisien dan efektivitas dalam penyampaian informasi yang dibawa oleh kehadiran ponsel pada akhirnya ikut menciptakan sebuah komunitas global dalam upaya memerangi berbagai permasalahan yang dihadapi warga dunia. Hal ini juga diungkapkan dari hasil akhir pertemuan KTT Masyarakat Informasi tahun 2005 di Tunisia yang mengatakan bahwa ponsel telah menjadi faktor penunjang pembangunan dan juga sebagai perangkat untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan pembangunan yang telah disepakati secara internasional, termasuk Millennium Development Goals (MDGs)[3].

Namun, yang tidak boleh dilupakan dalam rangka menyediakan informasi yang berguna bagi pembangunan itu adalah mengenai kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi tersebut. Kemudahan disini dapat diartikan sebagai ketersediaan (availability) dan kemampuan (ability) masyarakat. Ketersediaan dan kemampuan masyarakat dalam mengakses informasi melalui ponsel tersebut sangat erat kaitannya dengan kemampuan dan daya beli masyarakat dalam hal tarif pembicaraan atau biasa disebut sebagai pulsa. Jika tarif pembicaraan melalui ponsel tidak dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, terutama kalangan menengah kebawah, dapat dipastikan transfer informasi dan agenda pembagunan dapat terhambat. Padahal, hakekatnya informasi yang berbuah pengetahuan adalah hak dasar bagi setiap manusia tanpa mengenal lapisan strata sosial. Lebih lanjut, tersebarnya informasi dan pengetahuan secara luas dalam masyarakat dapat semakin memicu berkembangnya pengetahuan itu sediri yang akhirnya dapat berguna bagi pengentasan berbagai masalah sosial dan pemerataan pembangunan. Mengutip pernyataan dari Onno W. Purbo, bahwa knowledge is power, share it and it will multiply, dapat menjadi alasan utama mengapa pembangunan masyarakat berbasis informasi dan teknnologi menjadi agenda yang sangat penting, tak terkecuali di Indonesia.

Era Tarif Murah di Indonesia

Seperti telah disebutkan diatas bahwa kehadiran ponsel dapat menjembatani perkembangan arus informasi dan memicu tersebar luasnya pengetahuan pada masyarakat. Pada satu dekade yang lalu, perkembangan ponsel dan industri seluler di Indonesia masih tergolong kecil. Masyarakat Indonesia pada waktu itu belum menjadikan ponsel sebagai suatu kebutuhan yang mendesak karena akses yang terbatas kepada kemampuan daya beli atas ponsel dan alat pendukungnya, seperti kartu seluler dan juga tarif telepon yang relatif mahal. Selain itu, jangkauan operator seluler juga masih terbatas di daerah pusat kota dan sekitarnya. Akibatnya, persebaran informasi, pengetahuan, dan fleksibilitas dalam berkomunikasi hanya dapat dimiliki oleh kalangan menengah keatas yang mampu untuk memiliki ponsel. Kondisi ini jelas menyulitkan pemerataan pembangunan masyarakat Indonesia yang sekitar 60 % nya hidup di desa yang jauh dari kesibukan rutinitas perkotaan. Selain keterbatasan informasi, masyarakat kalangan menengah kebawah saat itu juga kesulitan untuk mengadopsi perkembangan teknologi yang ada.

Kondisi tersebut berubah drastis ketika harga ponsel, dan kartu operator seluler mulai mudah untuk dijangkau oleh masyarakat Indonesia secara luas. Secara perlahan namun pasti, penetrasi ponsel di tengah masyarakat Indonesia semakin berkembang dari waktu ke waktu. Pada tahun 2005, penetrasi pasar ponsel di Indonesia baru sekitar 14 % dari 240 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 30 juta nomer seluler. Namun, pada tahun 2008, penetrasi ponsel di Indonesia sudah mencapai hampir 50 % dengan jumlah nomer seluler mencapai 116 juta. Hal ini menempatkan Indonesia kedalam posisi 6 dalam jajaran 10 besar pelanggan seluler di seluruh dunia[4]. Industri telekomunikasi Indonesia juga menjadi satu-satunya industri infrastruktur yang dapat tumbuh diatas 50 % pada tahun 2008[5].

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan pasar seluler tersebut juga disumbang oleh semakin kompetitifnya industri seluler di Indonesia, terutama dalam hal tarif antar operator. Hal tersebut juga didukung oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Kominfo No.9/PER/M.KOMINFO/4/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi Yang Disalurkan Melalui Jaringan Bergerak Seluler. Penurunan tarif percakapan maupun transfer data melalui ponsel ini disambut dengan reaksi positif oleh masyarakat Indonesia. Menelepon kini bukanlah menjadi harga yang mahal bagi kelompok golongan menengah kebawah dalam mendapatkan informasi. Transfer informasi menjadi semakin lancar dari semua golongan masyarakat. Indikasinya dapat dilihat dari peningkatan traffic percakapan maupun perpindahan data melalui ponsel. Pada masa-masa padat seperti perayaan hari besar, jumlah panggilan pada satu operator seluler saja dapat mencapai 780 juta panggilan dan mengirimkan hampir 80 juta sms perhari[6].

Sekarang, kepemilikan ponsel sebagai kebutuhan sehari-hari bukan lagi menjadi monopoli masyarakat menangah ke atas. Mayarakat menengah kebawah justru menempati piramida pelanggan seluler terbanyak di Indonesia. Setidaknya, 65 % pasar seluler Indonesia ditempati oleh kalangan masyarakat menengah kebawah yang mayoritas tidak hidup di kota besar[7]. Maka tidaklah mengherankan apabila Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bahwa komunikasi melalui ponsel menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi rumah tangga miskin selain rokok[8]. Dengan kata lain, ponsel telah menjadi sebuah kebutuhan utama bagi seluruh lapisan masyarakat dalam berkomunikasi. Ini artinya, masyarakat Indonesia akan semakin mudah untuk mengadopsi perkembangan teknologi yang akan turut memicu tersebarnya informasi dan pengetahuan.

Hadirnya era tarif murah industri seluler juga telah mengubah kebiasaan berbagai lapisan masyarakat dalam berkomunikasi. Berbagai kelompok masyarakat tidak hanya memanfaatkan ponsel hanya sebatas mengirim pesan singkat ataupun menelepon saja, namun juga membuka dunia melalui ponsel. Pemakaian internet melalui ponsel menjadi sebuah fenomena sosial yang akan semakin mengantarkan masyarakat kepada gerbang informasi yang lebih luas. Selain itu, perkembangan teknologi seperti 3 G dan 3,5 G juga semakin mendorong perkembangan pengetahuan dan menghadirkan fenomena “wajah-wajah yang mendekat”.

Kontribusi Menuju Masyarakat IT

Kontibusi industri seluler dalam upaya mendekatkan masyarakat Indonesia dengan informasi dan teknologi dapat dilihat dari berbagai bidang. Dalam bidang ekonomi, sangat jelas terlihat bahwa kecenderungan penurunan tarif murah seluler ini meningkatkan penetrasi pasar industri seluler. Peningkatan penetrasi pasar ini pada kelanjutannya akan semakin mendongkrak perputaran uang dalam industri seluler. Selama tahun 2008 saja, nilai bisnis telekomunikasi mencapai 70 triliun rupiah yang dipicu oleh pembangunan jaringan operator ke sejumlah daerah dan kota dan juga peningkatan jumlah pelanggan[9]. Dalam tingkatan mikro ekonomi, pertumbuhan industri seluler ini telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja mulai dari usaha retail penjualan ponsel, penjualan aksesoris, servis, counter pulsa, distributor agen. Selain itu, mobilitas sektor UKM di pelosok Indonesia juga turut terbantu dengan adanya ponsel. Harga bahan baku dan harga barang dapat terus dipantau sehingga dapat meningkatkan produktifitas pengusaha.

Dalam bidang pendidikan, ponsel dapat digunakan sebagai media perantara yang sangat efektif antara guru dengan murid. Ketika komunikasi antra guru dengan murid terjalin dengan lancar, maka kekakuan komunikasi guru dengan murid yang biasa dialami oleh siswa dapat terhindarkan. Dampaknya ketika komunikasi terjalin dengan luwes adalah informasi atau pengetahuan dapat terserap lebih optimal. Selain itu, penggunaan ponsel juga dapat mendorong siswa untuk turut aktif dalam proses pembelajaran yang selama ini masih bersifat satu arah, yakni dari pihak guru semata. Jika diarahkan dengan benar, penggunaan ponsel dalam proses pembelajaran dapat menjadi media yang sangat baik untuk mendorong rasa keingintahuan anak terhadap pengetahuan, seperti pemantuan informasi terkini dan pengetahuan umum melalui internet ponsel. Hal ini sangat memungkinkan manakala tarif dasar transfer data semakin mudah dijangkau, bahkan oleh anak sekolah.

Dalam bidang kesehatan, pemanfaatan teknologi ponsel dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan teknis seperti, jauhnya jarak fisik dokter-pasien, jumlah tenaga kesehatan professional yang kurang, kurangnya informasi kesehatan, dan juga ketersediaan fasilitas kesehatan yang tidak merata di setiap daerah di Indonesia. Melalui pemanfaatan teknologi terkini dari pengembangan ponsel, berbagai kendala tersebut dapat diurai melalui akses pengetahuan tentang kesehatan yang lebih mudah. Selain itu, informasi medis dari pasien kepada dokternya dapat membantu dokter memantau perkembangan kesehatan pasiennya. Melalui kemudahan 3 G dan hadirnya fenomena “wajah-wajah yang mendekat”, para perawat yang terkoneksi dengan audio dan video secara real-time dengan dokter di rumah sakit dapat melaksanakan perawatan kesehatan dari rumah pasien. Hal ini membuka kemungkinan lebih banyak orang menikmati kesehatan lebih baik karena check up teratur dan diagnose yang lebih dini. Dengan kata lain, teknologi nirkebel telah menjadi kepanjangan tangan dari para dokter.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan, kehadiran teknologi ponsel yang didukung oleh tarif murah percakapan melalui ponsel telah memudahkan masyarakat dari berbagai kalangan untuk berkomunikasi. Hubungan sosial kemasyarakatan akan semakin erat terjalin dan hambatan informasi akan dapat diminimalisir. Kelancaran akses informasi dan teknologi dalam masyarakat itulah yang pada akhirnya akan mendukung pengembangan dan pembangunan masyarakat Indonesia.

Era tarif murah hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana baik oleh mayarakat maupun operator seluler. Dari pihak masyarakat, kelancaran akses informasi dan adopsi teknologi dalam masyarakat ini hanya akan berguna bagi pembangunan ketika informasi dan teknologi yang ada tidak disalahgunakan. Selain itu, konsekuensi nyata dari pembangunan masyarakat Indonesia berbasis informasi dan teknologi melalui ponsel ini adalah terjadinya kepadatan jaringan pada industri seluler. Dari pihak operator seluler, era tarif murah hendaknya dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas jaringan dan pelayanan kepada pelanggan. Hal ini sangatlah penting mengingat hampir sekitar 26 % dalam setahun kartu seluler hangus di Indonesia dan merupakan yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik[10]. Ini artinya, loyalitas konsumen harus dipertahankan melalui kebijakan tarif murah yang konsisten dan tidak membingungkan masyarakat. Dengan begitu, diharapkan kelancaran informasi tetap dapat dipertahankan karena minimnya kebiasan masyarakat untuk berganti-ganti nomor.

Kebutuhan akan akses informasi dan teknologi tidak dapat dihindari perkembangannya untuk turut mendukung pembangunan dalam berbagi bidang. Pada akhirnya, kehadiran tarif murah industri seluler di Indonesia dapat menjadi jalan pembuka untuk mendekatkan masyarakat Indonesia kepada akses informasi dan teknologi. Kemudahan dalam berkomunikasi adalah kunci dari terbukanya akses informasi tersebut. Selanjutnya, arus informasi, kemudahan komunikasi, dan kemajuan teknologi tersebut dapat mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Seperti kata-kata Anthony Robbins di awal tulisan ini, cara dari kita berkomunikasi kepada orang lain dan diri kita sendiri sesungguhnya sangat menentukan kualitas dari hidup kita.


[1]Dikutip dari artikel “memberdayakan masyarakat dunia melalui 3G “ Qualcomm Wireless Reach dalam situshttp://www.qualcomm.com/common/documents/brochures/Wireless_Reach_Brochure_0308_Bahasa.pdf, diakses tanggal 20 Desember 2008 pukul 20.00 WIB

[2]ibid

[3]ibid

[4] Dikutip dari artikel “Pelanggan Seluler Indonesia Terbesar ke 6 di Dunia” dalam situs http://www.detikinet.com/read/2008/09/17/111659/1007664/328/pelanggan-seluler-indonesia-terbesar-ke-6-di-dunia, diakses tanggal 20 Desember 2008 pukul 20.00

[5]Dikutip dari artikel “ Tarif seluler turus, konsumen kecewa?” dalam situs http://toyib.wordpress.com/2008/04/23/tarif-seluler-turun-konsumen-kecewa-industri-mati/, diakses tanggal 20 Desember 2008 pukul 20.30

[6] Dikutip dari artikel, “Voice call naik Drastis, SMS XL adem Ayem”, dalam http://www.detikinet.com/read/2008/12/29/113335/1060388/328/voice-call-naik-drastis-sms-xl-adem-ayemdiakses tanggal 29 Desember 2008

[7] Dikutip dalam artikel “ Industri Seluler Terancam Krisis”, dalam http://www.sdaindo.com/sda/news/psecom,id,20778,nodeid,5,_language,Indonesia.html, diakses tanggal 26 Desember 2008 pukul 21.00

[8] Dikutip dalam artikel “ masyarakat miskin penopang industri rokok dan seluler”, dalam http://vlisa.com/2008/08/24/masyarakat-miskin-menopang-industri-rokok-dan-seluler/, diakses pada tanggal 26 Desember 2008 pukul 21.00

[9] Dikutip dari artkel, Nilai Bisnis Telekomunikasi Seluler capai Rp 70 Triliun, dalam http://www.perangtarifseluler.com/index.php?option=com_content&task=view&id=404&Itemid, diakses tanggal 26 Desember 2008 pukul 20.00

[10] Data dikutip dari kantor berita antara dalam situs http://www.antara.co.id/arc/2007/8/13/pelanggan-ponsel-capai-80-7-juta-pada-2008/, diakses tanggal 26 Desember 2008 pukul 20.00

Hello world!

January 2, 2009 by praditatria

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!